Analisis Penerapan Good Agriculture Practice (Gap) Pada Tanaman Jagung: Studi Kasus Di Kecamatan Onan Runggu Kabupaten Samosir Provinsi Sumatera Utara
| Type | : | Paper |
| Author | : | Manullang, Nikita Angel |
| Issued Date | : | 2025 |
| Publisher | : | Polbangtan |
| Publication Place | : | Medan |
| ISBN ISSN | : | |
| Subject | : | |
| Total Download | : | 228 |
Abstract
Nikita Angel Manullang, Nirm 01.01.21.219. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) menganalisis tingkat penerapan Good Agriculture Practices (GAP) dalam budidaya jagung; (2) mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi tingkat adopsi GAP; dan (3) mengkaji secara komprehensif praktik budidaya jagung dari awal tanam hingga pascapanen serta faktor-faktor yang memengaruhi keberlanjutannya di Kecamatan Onan Runggu, Kabupaten Samosir. Penelitian ini menggunakan metode mixed methods dengan desain sequential explanatory, yang diawali analisis kuantitatif dan dilanjutkan dengan pendalaman kualitatif. Sampel sebanyak 148 responden diambil menggunakan teknik sampel jenuh, di mana seluruh populasi yang memenuhi kriteria dijadikan responden. Data dikumpulkan melalui penyebaran kuesioner, wawancara mendalam, dan observasi lapangan. Analisis data kuantitatif menggunakan regresi linear berganda, sedangkan data kualitatif dianalisis dengan Nvivo melalui visualisasi concept map. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat adopsi GAP berada pada kategori tinggi dengan skor 78,41%. Hasil uji F menunjukkan bahwa variabel karakteristik petani (X1), peran penyuluh (X2), sarana dan prasarana (X3), karakteristik wilayah (X4), dan sifat inovasi (X5) secara simultan berpengaruh signifikan terhadap adopsi GAP (Fhitung = 22,846 > Ftabel = 2,28; sig. = 0,000). Secara parsial, variabel peran penyuluh (X2), sarana dan prasarana (X3), karakteristik wilayah (X4), dan sifat inovasi (X5) berpengaruh nyata, sedangkan karakteristik petani (X1) tidak berpengaruh nyata (thitung = 1,238 < ttabel = 1,97; sig. = 0,218). Variabel karakteristik wilayah (X4) memberikan kontribusi paling dominan terhadap adopsi GAP dengan sumbangan relatif sebesar 41,7% dan sumbangan efektif sebesar 31,1%. Secara kualitatif, ditemukan bahwa praktik GAP yang diterapkan petani merupakan hasil adaptasi antara tradisi lokal dan teknologi modern, yang dipengaruhi oleh topografi, akses sarana, dan keterbatasan pelatihan teknis, dengan beberapa aspek belum optimal, seperti pembumbunan dan pengendalian hama. Faktor keberlanjutan dipengaruhi oleh penyuluhan, sarana, serta penyesuaian inovasi terhadap kondisi lokal.