Rancangan Penyuluhan Pertanian Tumpang Sari Tanaman Cabai Di Lahan Jagung Di Kecamatan Sitellu Tali Urang Julu Kabupaten Pakpak Bharat
| Type | : | Paper |
| Author | : | Risna Banurea |
| Issued Date | : | 2026 |
| Publisher | : | Polbangtan Medan |
| Publication Place | : | Medan |
| ISBN ISSN | : | |
| Subject | : | |
| Total Download | : | 1346 |
Abstract
Tujuan rancangan penyuluhan ini adalah (1) mengidentifikasi potensi wilayah penyuluhan pertanian di Kecamatan Sitellu Tali Urang Julu Kabupaten Pakpak Bharat, (2) menganalisis penetapan tujuan penyuluhan teknologi tumpang sari tanaman cabai di lahan jagung berdasarkan prinsip SMART dan ABCD, (3) menganalisis penetapan sasaran penyuluhan berdasarkan karakteristik petani, (4) menganalisis tingkat penerimaan petani terhadap rancangan penyuluhan yang meliputi materi, metode, media, volume, lokasi, waktu, dan biaya penyuluhan, serta (5) mengetahui jumlah petani yang menerapkan teknologi tumpang sari tanaman cabai di lahan jagung. Metode pengumpulan data dilakukan melalui wawancara menggunakan kuesioner. Jenis penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan pendekatan deskriptif. Analisis data dilakukan menggunakan metode rancangan penyuluhan dan skala Likert. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) identifikasi masalah di Kecamatan Sitellu Tali Urang Julu memiliki potensi pengembangan tumpang sari cabai di lahan jagung, namun penerapannya masih rendah karena petani cenderung menerapkan pola tanam monokultur dan memiliki keterbatasan pengetahuan mengenai teknik budidaya tumpang sari, (2) sasaran penyuluhan berjumlah 35 orang petani jagung, (3) tujuan penyuluhan pertanian yang ingin dicapai adalah petani mau menerapkan teknologi tumpang sari cabai di lahan jagung sesuai anjuran dari 0 orang (0%) menjadi 15 orang (37,5%), (4) tingkat penerimaan petani terhadap rancangan penyuluhan sebesar 86,01% dengan kategori sangat setuju, (5) sebanyak 3 orang (8,57%) telah menerapkan teknologi tumpang sari jagung dan cabai, 4 orang (11,43%) menyatakan bersedia menerapkan pada musim tanam berikutnya, sedangkan 28 orang (80,00%) belum bersedia menerapkannya. Hasil tersebut menunjukkan bahwa penyuluhan memberikan respons positif terhadap rancangan kegiatan, namun diperlukan pendampingan berkelanjutan untuk meningkatkan adopsi teknologi di tingkat petani.